>

Tahapan Membangun Tanah Subur

Tahapan Membangun Tanah Subur
Hallo sahabat Agribisnis Agrokompleks, Pada kesempatan ini kami akan memberikan informasi tentang Tahapan Membangun Tanah Subur, mudah-mudahan isi postingan Artikel Pertanian, bisa bermanfaat dan menambah wawasan kalian.

Baca juga


Tahapan Membangun Tanah Subur - Dalam membangun tanah menjadi lebih baik kesuburannya ada beberapa pertanyaan yang perlu dibahas antara lain: dapatkah cover crop dimasukkan ke dalam sistem rotasi tanaman? 
Tahapan Membangun Tanah Subur

Bagaimana tanaman residu tinggi atau tanaman rumput  tahunan? Adakah sumber ekonomis dari bahan organik atau pupuk alam di daerahmu? 

Adakah cara untuk mengurangi pengolahan tanah dan pupuk N buatan? Di mana sesuatu hal memungkinkan untuk dikerjakan, bahan pembenah tanah dari bahan organik dapat ditambahkan untuk menyuplai bahan organik dan hara tanaman. 

Hal ini terutama berguna untuk memenuhi hara tanaman di mana pupuk organik dan bahan pembenah tanah digunakan. Dimulai dengan uji tanah dan analisis hara bahan kita dapat membangun tanah menjadi lebih baik. 

Mengetahui jumlah hara yang dibutuhkan oleh tanaman merupakan petunjuk jumlah bahan pembenah yang harus diaplikasikan dan dapat menyebabkan pengurangan yang signifikan dapal pembelian pupuk buatan. 

Komposisi hara bahan organik dapat berubah-ubah, yang merupakan dasar untuk menentukan jumlah yang dibutuhkan  menyesuaikan dengan hasil analisis. 

Selain mengandung hara utama tanaman, pupuk organik dapat menyuplai unsur mikro esensial bagi tanaman. Kalibrasi yang tepat dari peralatan alat penyebab pupuk merupakan hal yang penting untuk menjamin tingkat aplikasi yang akurat.

Penggunaan Pupuk Kotoran Hewan

Pupuk alam merupakan bahan pembenah tanah yang paling tepat, karena memberikan bahan organik dan hara dan N dalam pupuk kotoran hewan bergantung pada makanan yang dikonsumsinya, jenis alas kandang yang digunakan (jika ada), dan apakah pupuk tersebut diaplikasikan sebagai padatan atau cairan. 

Tingkat pemberian pupuk kotoran ternak susu sebesar 20-60 ton per ha atau 4000-11.000 galon cairan untuk jagung. Pada tingkat pemberian ini tanaman akan memperoleh antara 50 -150 kg N tersedia per hektar. 

Apalagi sejumlah besar C akan ditambahkan ke dalam tanah, mengakibatkan tidak ada kehilangan bahan organik tanah. 

Residu tanaman yang tinggi tumbuh dari lahan dengan aplikasi pupuk alam dan meninggalkan tanah akan juga mendukung bahan organik.

Namun, masalah yang umum dengan menggunakan pupuk alam sebagai sumber hara tanaman adalah bahwa tingkat aplikasi biasanya didasarkan pada kebutunan N tanaman tersebut. 

Karena beberapa pupuk alam mempunyai  cukup banyak P sebagaimana N uang terkandung dalam pupum alam tersebut, sehingga dapat menambah kandungan P tanah. 

Sebagai contoh kotoran ternak ayam broiler dapat mengandung kira-kira 25 kg N dan P dan  kira-kira 20 kg K per ton.

Penggunaan Kompos

Pengomposan bahan organik dan pupuk alam di tingkat petani merupakan suatu cara yang tepat untuk menstabilkan kandungan hara. 

Pupuk alam yang dikomposkan juga lebih mudah ditangani, tidak terlalu menumpuk, berbau lebih baik daripada pupuk segar (mentah). 

Sebagian besar hara dalam pupuk segar merupakan bentuk yang tidak larut dan tidak stabil. Bentuk yang tidak stabil tersebut lebih memungkinkan untuk mengalir di permukaan bersama dengan aliran air jika diaplikasikan di permukaan tanah atau tercuci jika dibenamkan ke dalam tanah. 

Kompos tidak sebagus sumber hara yang siap tersedia, tetapi kompos melepaskan hara-haranya secara perlahan-lahan, dengan demikian meminimalkan kehilangan. 

Kompos yang berkualitas mengandung lebih banyak humus daripada komponen mentahnya, karena dekomposisi awal telah terjadi selama proses pengomposan. 

Tidak seperti halnya pupuk alam, kompos dapat digunakan di hampir tingkat pemberian tanpa membakar tanaman. Contoh nyata dalam budidaya tanaman di pot di rumah kaca menggunakan kompos sebesar 20-30%. 

Kompos seharusnya juga dianalisis di laboratorium untuk menentukan kandungan haranya dan menjamin bahwa kompos tersebut efektif digunakan untuk menghasilkan  tanah dan tanaman yang sehat dan tidak secara berlebihan sehingga dapat memberikan kontribusi negatif terhadap polusi air.

Pengomposan juga mengurangi isi bahan organik mentah, terutama pupuk kotoran hewan, yang seringkali mempunyai kandungan air yang tinggi. 

Namun, semakin kecil dan semakin mudah ditangani, kompos dapat menjadi mahal. Pengomposan di tingkat petani dapat mengurangi biaya dibandingkan dengan membeli kompos jadi.

Penanaman Cover Crop dan Pupuk Hijau

Berbagai jenis tanaman dapat ditanam sebagai tanaman penutup tanah (cover crop). Beberapa dari jenis cover crop yang umum digunakan adalah tanaman rumput-rumputan, tanaman legum. 

Tiap-tiap jenis tanaman mempunyai kelebihan satu dengan lain dan berbeda dalam hal tingkat adaptabilitasnya. Tanaman penutup tanah dapat mempertahankan atau meningkatkan bahan organik tanah jika mereka diijinkan tumbuh cukup lama untuk menghasilkan dedaunan yang banyak.

Untuk cover crop legum memberikan tambahan N ke dalam tanah yang cukup dapat dipertimbangkan untuk tanaman berikutnya; sehingga tingkat aplikasi N dapat dikurangi. 

Bila rumput-rumputan digunakan sebagai cover crop, diperlukan penambahan N untuk menggantikan N yang diikat akibat tingginya kandungan C- organik residu rumput-rumputan. 

Cover crop juga berfungsi menekan pertumbuhan gulma, membantu memutuskan siklus pestisida, melalui tepungsari dan nektar memberikan sumber makanan bagi serangga yang bermanfaat. 

Cover crop juga dapat mendaur ulang hara-hara dalam tanah, membuatnya tersedia bagi tanaman berikutnya sebagai pupuk hijau.

Aplikasi Asam Humat

Turunan asam humat dan asam fulvat merupakan golongan famili yang berbeda-beda dari produk, yang biasanya diperoleh dari berbagai bentuk batu bara teroksidasi.

Batubara yang dihasilkan humus sama pentingnya dengan ekstrak humus dari tanah, tetapi ada suatu keengganan dalam beberapa lingkungan untuk menerima sebagai suatu bahan tambahan yang berguna bagi tanah. 

Pada sebagian orang menganggap bahwa hanya humus yang berasal dari bahan organik yang baru terurai saja yang bermanfaat. 

Hal ini juga benar bahwa produksi dan daur ulang bahan organik dalam tanah tidak dapat digantikan oleh humus berasal dari batubara.

Namun, sementara gula, gum, wax, dan bahan-bahan serupa yang berasal dari bahan organik segar yang melapuk memegang peranan penting dalam mikrobiologi dan struktur tanah, bahan-bahan  tersebut bukan humus. 

Hanya sebagian kecil saja dari bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan dikonversi menjadi humus. Dan sebagian besar kembali ke atmosfer sebagai CO2 ketika bahan organik tersebut melapuk.

Beberapa studi telah menunjukkan  efek positif dari humat. Namun dalam jumlah sedikit asam humat kurang berpengaruh nyata terutama pada tanah dengan kandungan bahan organik tinggi; yang dalam jumlah besar dapat mengikat  hara tanah.

Pengolahan Tanah Konservasi

Walaupun pengolahan tanah sudah menjadi praktek yang umum pada kebanyakan sistem produksi pertanian, namun pengaruhnya terhadap tanah dapat menjadi kontra produktif. 

Pengolahan tanah meratakan permukaan tanah dan merusak aggregasi tanah secara alami dan terowongan-terowongan yang dibuat oleh cacing tanah. 

Porositas dan infiltrasi air menurun akibat tindakan pengolahan tanah. Lapisan bajak akan terbentuk akibat pengolahan tanah yang intensif, terutama jika tanah dibajak dengan peralatan berat dalam kondisi basah. 

Tanah yang diolah menjadi lebih peka terhadap erosi dibandingkan dengan tanah yang tertutup residu tanaman. 

Sehubungan dengan permasalahan-permasalahan yang telah disebutkan diatas akibat pengolahan tanah konvensional, maka saat ini telah dikembangkan pengolahan tanah konservasi yang meliputi Tanpa Olah Tanah, Pengolahan tanah dalam barisan tanam (ridge till), dan pengolahan tanah pada lubang tanam (zone till).

Pada dasarnya pengolahan tanah konservasi merupakan pengolahan tanah yang meninggalkan residu tanaman sebelumnya pada penanaman tanaman berikutnya. 

Manfaat dari pengolahan tanah konservasi adalah mengurangi erosi tanah dan memperbaiki  retensi air tanah, sehingga tanaman lebih tahan terrhadap kekeringan ketika musim kemarau. 

Manfaat tambahanya adalah dapat mengurangi penggunaan bahan bakas, meningkatkan fleksibilitas penanaman dan pemanenan, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, dan memperbaiki kondisi fisik tanah.

Pada pengolahan tanah konservasi proses pencampuran tanah terjadi lebih sedikit, sehingga mempengaruhi bentuk dan penempatan pupuk dalam tanah. 

Pupuk akan tetap tinggal pada permukaan tanah. Residu-residu tanaman yang berada di permukaan tanah menyebabkan tanah tetap lembab, merangsang pertumbuhan akar di sekitar permukaan tanah dan memperbaiki serapan hara dari lapisan tanah di bawahnya. 

Pengolahan tanah konservasi terutama Tanpa Olah Tanah dapat mengurangi ketersediaan N dengan menambah jumlah N yang diikat oleh lapisan tanah atas, meningkatkan pencucian dan volatilisasi, dan menurunkan rata-rata temperatur tanah. 

Pemberian N pada lapisan tanah yang lebih dalam dan inhibitor Nitrifikasi akan dapat mengurangi masalah ini.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Tahapan Membangun Tanah Subur"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel