Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung

Jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung - Adapun jenis-jenis hama yang sering menyerang tanaman jagung menurut Nonci, dkk (1996) adalah sebagai berikut :

Hama dan penyakit tanaman jagung

Lalat Bibit (Atherigona sp.) 

Lalat bibit berukuran kecil, telur berbentuk memanjang dan diletakkan pada daun termuda (hypocoty). Setelah 48 jam telur menetas pada waktu malam, tempayak keluar dari telur lalu bergerak cepat menuju titik tumbuh yang merupakan makanan utamanya. 

Hama ini mulai menyerang tanaman semenjak tumbuh sampai tanaman berumur sekitar satu bulan. Pada serangan berat, tanaman jagung dapat menjadi layu ataupun mati dan jika tidak mati pertumbuhannya terhambat (Kalshoven 1981). 

Lalat bibit cepat berkembang biak dengan pada kelembaban tinggi, oleh karena itu di musim hujan lalat ini merupakan hama utama jagung. Siklus hidupnya berkisar 15–25 hari. Seekor lalat bibit betina mampu bertelur 20–25 butir. 

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.) 

Ngengat Agrotis ipsilon meletakkan telur satu persatu dalam barisan atau diletakkan rapat pada salah satu permukaan daun pada bagian tanaman dekat dengan permukaan tanah. Seekor ngengat betina dapat bertelur ± 1800 butir. Stadia telur 6–7 hari. 

Larva muda bersifat fototaksis, sedang larva yang lebih tua bersifat geotaksis sehingga pada siang hari bersembunyi di dalam tanah dan muncul kembali untuk makan pada malam hari. Satu generasi dapat berlangsung 4–6 minggu.

Lundi (Uret) (Phyllophaga Hellen)

Kumbang muncul atau terbang setelah ada hujan pertama yang cukup lebat sehingga menyebabkan tanah cukup lembab. Telur diletakkan satu persatu di dalam tanah. Stadium telur 10 -11 hari. 

Stadium larva aktif ± 5,5 bulan dan larva tidak aktif sekitar 40 hari. Larva menyerang tanaman jagung dibagian perakaran, sehingga mengakibatkan tanaman menjadi layu dan dapat rebah atau mati. 

Penggerek Batang (Ostrinia Furnacalis Guenee)

Pada umumnya telur Ostrinia furnacalis yang mencapai 90 butir diletakkan pada tulang daun bagian bawah dari tiga daun teratas. Ulat yang keluar dari telur menuju bunga jantan dan menyebar bersama angin. 

Ada pula yang langsung menggerek tulang daun yang telah terbuka, kemudian menuju batang dan menggerek batang tersebut serta membentuk lorong mengarah ke atas. 

Setelah sampai dibuku bagian atas, ulat segera turun kebuku bagian bawah. Ulat berpupa di dalam batang. Seekor ngengat betina mampu bertelur 300– 500 butir. Siklus hidup 22–45 hari. 

Batang tanaman jagung biasanya patah-patah kemudian tanaman mati karena terhentinya translokasi hara dari akar tanaman ke daun (Kalshoven 1981). O. furnacalis mulai dijumpai pada umur 40 HST yaitu hanya ada 4 kelompok telur (KT) per 100 tanaman. 

Ulat Grayak (Spodoptera Litura F., Mythimna Separata)

Ulat ini muncul dipertanaman setelah 11 – 30 HST. Serangan pada tanaman muda dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan dapat mematikan tanaman. Serangan berat pada pertanaman dapat mengakibatkan tinggal tulang-tulang daun saja. 

Ngengat betina meletakkan kelompok- kelompok telur yang ditutupi bulu-bulu halus berwarna merah sawo pada permukaan bawah daun. Setiap kelompok telur terdiri dari 100 – 300 butir. 

Seekor ngengat betina mampu bertelur 1000 – 2000 butir. Masa telur 3 – 4 hari, ulat 17 – 20 hari, kepompong 10 – 14 hari. Siklus hidupnya 36 – 45 hari (Kalshoven 1981). Pengendalian: dengan menggunakan insektisida Carbofuran 3% diberikan pada pucuk tanaman. 

Wereng Jagung (Peregrinus Maidis Ashm.) 

Bentuk dan ukuran serangga dewasa mirip dengan hama wereng coklat dewasa yang meyerang padi. Siklus hidup 25 hari, masa telur 8 hari, telurnya berbentuk bulat panjang dan agak membengkok (seperti buah pisang), warna putih bening yang diletakkan pada jaringan pelepah daun secara terpisah atau berkelompok (Lilies 1991). 

Nimpa mengalami 5 instar, instar pertama berwarna kemerah-merahan kemudian berangsur-angsur berubah menjadi putih kekuning-kuningan. Disepanjang permukaan atas badannya terdapat bintik-bintik kecil berwarna coklat (Gabriel 1971).

Instar pertama menyukai daun-daun yang baru tebuka, pelepah daun, kelopak daun dan bunga jantan yang masih muda dan lunak (Saranga 1980).  

Tubuh wereng dewasa berwarna kuning kecoklatan, sayap bening dan kedua mata berwarna hitam. Terdapat duri pada tibia belakang yang dapat berputar (Saranga dan Fachruddin 1978).

Gejala serangan pada daun tampak bercak bergaris kuning, garis-garis pendek terputus-putus sampai bersambung terutama pada tulang daun kedua dan ketiga. 

Daun tampak bergaris kuning panjang, begitu pula pada pelepah daun. Pertumbuhan tanaman akan terhambat, menjadi kerdil, tanaman menjadi layu dan kering (hopper burn). 

Pengendalian : waktu tanam serempak, waktu tanam dilakukan pada akhir musim hujan dan bila menggunakan insektisida gunakan insektisida Carbofuran 3%.

Penggerek Tongkol (Helicoverpa Armigera Hubn.) 

Serangga ini muncul di pertanaman pada umur 45 – 56 hari setelah tanam (HST), bersamaan dengan munculnya rambut-rambut tongkol. Telur diletakkan pada rambut-rambut tongkol secara tunggal, dan menetas setelah ± 4 hari. 

Ulat ini menjadi pupa di dalam tongkol atau di tanah. Ngengat aktif pada malam hari dan mampu bertelur 600 – 1000 butir. Stadia pupa berkisar antara 12 – 14 hari. 

Selain menyerang tongkol juga menyerang pucuk dan menyerang malai sehingga bunga jantan tidak terbentuk yang mengakibatkan hasil berkurang. Siklus hidupnya ± 36 – 45 hari. 

Populasi telur penggerek tongkol mulai dijumpai di jambul tongkol pada umur 50 HST dengan jumlah yang cukup tinggi yaitu 336 butir/100 tanaman. 

Adapun jenis-jenis penyakit yang sering menyerang tanaman jagung menurut Nonci, dkk (1996) adalah sebagai berikut :

Penyakit Bulai (Peronosclerospora sp.)

Di Indonesia ada 2 jenis cendawan yang dapat menyebabkan penyakit bulai yaitu P. maydis dan P. philippinensis (Semangun 1973). Namun pada tahun 2003 telah ditemukan P. sorghi di Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara (Wakman dan Hasanuddin 2003). 

Gejala penyakit bulai ini, daun berklorosis sebagian atau seluruh daun, bila tanaman terinfeksi lebih awal akan menyebabkan tanaman kerdil, tidak berbuah, tetapi bila bertongkol, tongkolnya tidak normal dan dapat pula menyebabkan tanaman mati.

Penyakit Virus Mozaik Kerdil (VMK)

Penyebab penyakit ini disebabkan oleh Virus Mozaik Tebu, Virus Mozaik Ketimun atau Virus Mozaik Kerdil. Gejala terlihat pada daun dengan adanya perubahan warna yang menjadi hijau muda diantara hijau tua normal.

Penyakit Bercak Daun (Bipolaris Maydis)

Penyebab penyakit bercak daun adalah cendawan Helminthosporium turcicum Pass. atau Helminthosporium maydis Nisik. 

Gejala serangan menurut Semangun (1991), tanaman jagung yang terserang cendawan ini menampakkan gejala berupa bercak coklat kelabu seperti jerami pada permukaan daun dengan ukuran panjang 4 cm dan lebar 0,6 cm untuk Bipolaris maydis, dan untuk H. turcicum mempunyai ukuran panjang 5 – 15 cm dan lebar 1 – 2 cm.

Penyakit Hawar/Upih Daun (Rhizoctonia solani Kuhn.)

Penyebab penyakit ini adalah cendawan Rhizoctonia solani Kuhn. Gejala bercak melebar pada daun juga pada pelepah berwarna merah keabu-abuan, terlihat adanya butiran berwarna putih (sclerotia) yang dapat berubah warna menjadi kecoklatan yang menempel pada permukaan daun/pelepah yang terinfeksi. Umumnya menyerang pada musim hujan. 




Sumber

Nonci, N., J. Tandiabang, Masmawati, dan A. Muis. 1996. Kehilangan Hasil Oleh Penggerek Jagung O. furnacalis pada Berbagai Stadia Tanaman Jagung. Hasil Penelitian Hama/Penyakit 1995/1996. Balitjas Maros. pp. 27-33.

Post a Comment for "Jenis Hama dan Penyakit Pada Tanaman Jagung"