>

Panduan Budidaya Padi Organik yang Baik dan Benar

Panduan Budidaya Padi Organik yang Baik dan Benar
Panduan Budidaya Padi Organik - Budidaya padi organik pada dasarnya tidak berbeda dengan budidaya padi anorganik, namun kita tahu sendiri bahwa perbedaan paling nyata dalam budidaya padi organik yaitu pada pemilihan varietas, penggunaan pupuk dasar, dan pengairan.
Budidaya Padi Organik

Pemilihan Varietas

Padi hibrida kurang cocok ditanam secara organik karena diperoleh melalui proses pemuliaan di laboratorium. 

Varietas hibrida merupakan varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit tertentu, namun varietas ini hanya dapat tumbuh dan berproduksi optimal bila disertai dengan aplikasi pupuk anorganik dalam jumlah yang banyak.

Varietas padi yang cocok ditanam secara organik adalah varietas alami karena varietas ini tidak menuntut penggunaan pupuk anorganik. Varietas alami yang dapat dipilih untuk ditanam secara organik adalah: rojolele, mentik, pandan, dan lestari. 

Varietas rojolele memiliki kualitas yang paling baik daripada ketiga varietas lainnya sehingga harga berasnya paling mahal jika dibandingkan dengan ketiga varietas lainnya. 

Namun varietas ini memiliki masa tanam yang lebih lama daripada varietas lainnya yaitu selama 150 hari, sementara varietas lainnya sudah dapat dipanen setelah berumur 100 hari.

Pembenihan

Benih bermutu merupakan syarat untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal. Ciri benih bermutu adalah jenisnya murni, bernas, kering, sehat, dan bebas dari campuran biji rerumputan yang tidak dikehendaki. 

Benih yang bermutu memiliki daya kecambah sekitar 90 persen. Untuk setiap hektar tanah yang akan ditanami dibutuhkan benih sebanyak 25-30 kg dengan jarak tanam 25 x 25 cm. Penyediaan benih yang berlebihan akan mempengaruhi bibit padi yang dihasilkan.

Benih yang terlalu banyak ditebarkan diatas persemaian akan mengakibatkan bibit tumbuh saling berjejal sehingga sinar matahari tidak dapat menembus ke sela-sela tanaman. 

Kondisi ini akan menjadikan bibit tumbuh memanjang dan lemah sehingga saat dipindahkan ke lahan akan banyak yang mati. 

Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan dilakukan dengan menghancurkan bongkahan-bongkahan tanah di sawah hingga menjadi lumpur lunak dan sangat halus. Selain kehalusan tanah, ketersediaan air yang cukup harus diperhatikan. 

Ketersediaan air yang cukup banyak dalam areal penanaman akan menyebabkan semakin banyak
unsur hara yang dapat diserap akar tanaman. 

Langkah awal pengolahan tanah dilakukan dengan memperbaiki pematang sawah dengan cara meninggikan pematang dan menutup lubang-lubang yang menyebabkan air keluar dari lahan. 

Lahan penanaman harus tergenang air selama seminggu sebelumpembajakan. Pembajakan dapat dilakukan dengan traktor atau tenaga hewan. Pembajakan ini bertujuan untuk membalikkan tanah dan memberantas gulma. 

Lahan sawah yang sudah dibajak dibiarkan tergenang air selama seminggu dan dibajak lagi agar bongkahan tanah semakin kecil. Pembajakan kedua ini disertai dengan pemberian pupuk kandang matang sebanyak 5 ton/ha.

Penanaman

Syarat bibit yang baik untuk dipindahkan ke lahan penanaman adalah memiliki tinggi sekitar 25 cm, memiliki 5-6 helai daun, batang bawah besar dan keras, serta bebas dari serangan hama penyakit. Umur bibit berpengaruh pada produktivitas. 

Selain umur bibit, produktivitas padi dipengaruhi oleh jarak tanam. Penentuan jarak tanam dipengaruhi oleh dua faktor yaitu sifat varietas dan kesuburan tanah. 

Bila varietasnya memiliki sifat merumpun tinggi maka jarak tanamnya harus lebih lebar dari padi yang memiliki sifat merumpun rendah.

Sementara bila tanah sawah lebih subur maka jarak tanamnya harus lebih lebar daripada tanah yang kurang subur. 

Jarak tanam yang paling banyak digunakan oleh petani di Indonesia adalah 25 x 25 cm dan 30 x 30 cm. Jumlah bibit yang dimasukkan ke dalam setiap rumpun berkisar tiga sampai empat.

Penyiangan

Tanaman pengganggu atau gulma diatasi dengan cara dicabut kemudian dibuang ke luar areal persawahan atau dipendam dalam lumpur sawah sedalamdalamnya. Dalam satu musim tanam, penyiangan dilakukan tiga kali. 

Penyiangan pertama dilakukan saat tanaman berumur empat minggu, kedua saat tanaman berumur 35 hari, dan ketiga saat tanaman sudah berumur 55 hari. Kegiatan penyiangan ini dilakukan berdasarkan ada atau tidaknya gulma di areal pertanian.

Pengairan

Air sangat dibutuhkan oleh tanaman padi untuk meningkatkan produktivitasnya. Namun tidak semua tahap pertumbuhan padi membutuhkan air, ada tahap yang memerlukan air dalam jumlah yang banyak ada juga tahap yang tidak membutuhkan air. 

Oleh sebab itu, pengaturan pemasukan dan pengeluaran air sangat diperlukan. Setelah bibit padi ditanam, petakan sawah harus digenangi air setinggi 2-5 cm dari permukaan tanah. 

Penggenangan dilakukan selama 15 hari untuk mempertahankan struktur tanah yang sudah diperoleh saat pengolahan.

Penggenangan ini juga bertujuan untuk menghambat pertumbuhan gulma. Pada tahap pembentukan anakan, ketinggian air perlu ditingkatkan dan dipertahankan antara 3-5 cm hingga tanaman terlihat bunting. 

Bila ketinggian air lebih dari 5 cm, pembentukan anakan atau tunas akan terhambat sebaliknya bila ketinggian air kurang dari 3 cm gulma akan mudah tumbuh.

Pemupukan

Ciri utama budidaya padi organik adalah penggunaan pupuk kimia diganti dengan pupuk organik. Pupuk organik digunakan sebagai pupuk dasar berupa kompos atau pupuk kandang matang sebanyak 5 ton/ha. Pupuk kandang tersebut diberikan bersamaan dengan pembajakan kedua dengan cara disebarkan merata ke seluruh permukaan tanah. 

Setelah disebarkan, pupuk tersebut dibiarkan selama empat hari. Selanjutnya tanah sawah digaru sehingga pupuk kandang dapat menyatu dengan tanah. 

Penggunaan kompos dan pupuk kandang sebagai pupuk dasar juga dapat digantikan dengan menggunakan pupuk fermentasi (bokashi).

Penggunaan pupuk fermentasi lebih hemat dibandingkan pupuk kompos atau pupuk kandang cukup 1,5-2 ton/ha. Selain hemat, penggunan pupuk fermentasi juga lebih baik karena mengandung mikroba pengurai yang lebih banyak sebagai penambah kesuburan tanah.

Pemberantasan Hama Dan Penyakit

Penggunaan pestisida kimia untuk pemberantasan hama dan penyakit tidak diijinkan pada pertanian organik. Pemberantasan hama dan penyakit padi organik dapat dilakukan secara terpadu antara teknik budidaya, biologis, fisik (perangkap), dan kimia pestisida.

Pemanenan

Sekitar 10 hari sebelum panen, sawah harus dikeringkan agar padi masak serentak, selain itu pengeringan sawah akan memudahkan pemanenan. 

Pemanenan harus dilakukan pada saat yang tepat. Panen yang terlalu cepat dapat meyebabkan kualitas bulir gabah menjadi rendah yaitu banyak butir hijau atau butir berkapur dan berasnya juga mudah hancur saat digiling. 

Sebaliknya panen yang terlambat dapat menurunkan produksi karena banyak butir gabah yang sudah dimakan tikus atau burung. 

Secara umum padi dikatakan sudah siap panen bila butir gabah yang menguning sudah mencapai 80 persen dan tangkainya sudah menunduk. 

Bila butirannya sudah keras dan berisi maka padi sudah dapat dipanen. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan sabit dimana batang padi yang disisakan hanya 20 cm dari permukaan tanah. 

Setelah dipanen gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan mesin perontok ataupun dengan tenaga manusia.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Panduan Budidaya Padi Organik yang Baik dan Benar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel